Sejak wabah Covid-19 melanda hampir di seluruh penjuru dunia ini, maka ada sebuah konsekuensi yang harus diterima oleh kurang lebih 7 miyar manusia yang hidup di dalamnya, yang lazim dikenal dengan istilah lockdown.  Meski di berbagai tempat dan berbagai negara lockdown memiliki istilah yang berbeda-beda, namun kegiatannya tetap sama : semaksimal mungkin diam di rumah dan tidak melakukan interaksi sosial seperti yang umumnya dilakukan selama ini.

Khususnya bagi orang Indonesia yang terkenal dengan kegotongroyongan dan semangat persaudaraan yang tinggi hal ini tentu terasa berat dijalankan. ­Lockdown terasa menyiksa dan membelenggu kebebasan, namun apa daya, saat ini hanya ­lockdown­ yang dianggap oleh banyak ahli cara yang paling efektif untuk menekan penyebaran virus.

Dari sekian banyak aspek yang terdampak oleh lockdown, dunia pendidikan termasuk didalamnya. Pada kesempatan ini penulis akan mengerucutkan bahasan pada pendidikan bahasa, sebab dari sekian banyak bidang ilmu, menurut penulis penyampaian ilmu bahasa mengalami kesulitan yang cukup kompleks tanpa adanya tatap muka. Mengapa demikian?

Sebagaimana sudah diketahui secara umum bahwa bahasa adalah produk dari interaksi sosial manusia, maka salah satu kata kunci keberhasilan bahasa adalah dengan berinteraksi, misal bercakap-cakap dengan lawan bicara sambil menyimak intonasi suara dan perubahan mimiknya saat menyampaikan sebuah informasi.

Sebagai solusi akan kebutuhan interaksi dalam belajar bahasa, maka para pengajar bahasa pun banyak yang bergegas membawa ruang tatap muka mereka bersama para siswa ke dalam media belajar daring. Salah satu yang paling umum digunakan adalah zoom, karena aplikasi ini memungkinkan adanya tatap muka dan juga berbagi materi pelajaran yang bervariasi.

Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah apakah belajar bahasa melalui media daring dapat menghasilkan kualitas belajar yang optimal? Masih dapatkah kita merasakan sensasi interaksi sosial saat belajar daring? Jawabannya pasti bisa.

Analoginya sama seperti saat kita menyaksikan tayangan sebuah drama korea atau film india di televisi. Terkadang kita sebagai penonton ikut tertawa ataupun menangis, hanyut terbawa alur cerita yang disampaikan begitu apik didalamnya. Padahal tayangan itu hanya bersifat satu arah, tidak ada interaksi langsung di dalamnya. Jadi adalah hal yang masuk akal, jika pelajaran bahasa yang kita sampaikan dua arah  secara daring mendapat hasil belajar maksimal. Jadi bagaimana caranya?

1. Tentukan “man of the day

Pada umumnya setiap bab dalam pelajaran bahasa pasti memiliki tema tertentu, misalnya tentang situasi belajar di kelas, lingkungan rumah, hobby dan sebagainya. Mari kita tunjuk seorang siswa yang akan kita jadikan tokoh utama hari itu. Kita gali pengalamannya yang terkait dengan tema tersebut. Siswa yang ditetapkan menjadi tokoh tentunya akan bersemangat dan siswa lain juga biasanya akan menyiapkan diri, seandainya saja mereka ditetapkan sebagai tokoh di materi berikutnya.

2. Siapkan alur cerita

Mari kita anggap bahwa ruang kelas daring adalah panggung milik kita, di mana kita akan bawakan cerita yang menarik untuk anak didik kita. Tentukan pembukaan yang membuat penasaran, yang dapat memancing siswa mengajukan pertanyaan dan juga berbagi pengalamannya. Lanjutkan dengan isi materi yang berbobot dan tentunya penutupan yang berkesan. Dalam bahasa pendidikan proses membuat alur dalam belajar kita kenal dengan istilah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Kelas yang direncanakan tentu hasilnya jauh lebih baik daripada kelas yang mengalir seadanya saja, hanya mengikuti halaman-halaman buku yang ada hingga jam belajar berakhir.

3. Gunakan media belajar yang bervariasi

Hanya menatap layar belajar selama berjam-jam tentunya rentan memicu kejenuhan, sehingga diperlukan variasi dalam media belajar. Sesekali bersama siswa kita dapat menonton film pendek yang masih relevan dengan materi pelajaran atau menyanyikan bersama sebuah lagu yang sesuai dengan tema. Pengajar bahkan sebaiknya mengurangi versi monolognya di dalam kelas dengan cara mempersilahkan siswa mempresentasikan hasil karya mereka.

4. Menahan diri untuk tidak menyalahkan siswa

Adalah hal yang wajar jika siswa melakukan kesalahan saat berbicara atau menulis, makanya mereka belajar J . Mari kita biasakan untuk menyimak dulu apa yang mereka sampaikan hingga selesai, setelah itu diperbaiki secara halus dengan memberi contoh kalimat yang benar dalam bentuk artikel ataupun bersama-sama membuat quote of the day yang sesuai dengan tema yang dipelajari.

Kesimpulan akhir dari tiga pendekatan yang telah disampaikan di atas adalah optimalisasi keterlibatan siswa dalam proses belajar. Jika siswa merasa dirinya memiliki peran dalam pembelajaran, maka seharusnya mereka juga terpicu untuk belajar mandiri, agar saat mereka dapat giliran „tampil“ di kelas nanti, mereka mampu mempresentasikan kemampuannya secara optimal.

Depok 17 Juli 2020

Siti Makmuria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *