Serial persiapan kuliah ke Jerman 15

Membaca dan melihat berita-berita tentang eropa, terutama jika saat ada peristiwa negatif yang menyangkut Islam, maka bagi mereka yang belum pernah hidup di Eropa akan terbayang betapa sulitnya hidup sebagai Muslim di sana. Tentu kesan ini bisa dimaklumi, karena sering tidak seimbangnya berita yang beredar. Karena itu, ada teman yang usul untuk menulis artikel yang secara khusus menceritakan, bagaimana kehidupan Muslim di Eropa khususnya di Jerman.

Ada beberapa aspek dalam hidup sebagai Muslim di Jerman, dan aspek-aspek inilah yang akan coba dibuat dalam artikel berseri, yang mudah-mudahan bermanfaat bagi mereka yang berniat hidup di Jerman, khususnya yang ingin belajar di sana sebagai Student. Artikel ini akan membahas aspek yang cukup popular dan biasanya juga menjadi hal terpenting, yakni makanan halal.

Ok, menjaga kehalalan makanan yang masuk ke dalam tubuh kita adalah salah satu kewajiban dan juga kebutuhan sebagai seorang Muslim. Bahkan dijelaskan juga, bahwa jika ada makanan haram yang sampai masuk ke dalam tubuh kita, beberapa hari ibadah kita tidak akan diterima. Jadi, makanan halal adalah hal yang sangat penting yang harus dijaga.

Di Jerman, sebagai Student, cara yang paling aman, dan juga paling irit biaya, adalah dengan memasak sendiri makanan kita. Maka kita perlu mencari tempat, di mana kita bisa berbelanja bahan makanan mentah yang halal, seperti daging ayam, kambing, sapi dan sejenisnya. Nah, informasi tentang toko atau tempat berbelanja bahan makanan halal ini, bisa kita dapatkan dengan bertanya di masjid yang ada di kota kita. Bahkan kadang di masjid pun punya toko kecil yang menjual bahan makanan halal, dengan jam bukan tertentu waktu dan harinya. Juga di beberapa organisasi atau perkumpulan Islam, baik itu di Universitas (organisasi Student Islam) atau pun yang berbentuk perkumpulan, seperti pengajian masyarakat Indonesia di sana. Selanjutnya tentu tinggal kemampuan kita untuk bisa memasak untuk sendiri, dan itu memang sebaiknya kita sudah belajar memasak praktis sejak di Indonesia.

Berikutnya adalah makanan jadi. Tentu ada banyak warung atau kedai yang menjual makanan jadi siap makan. Biasanya kita perlu juga beli makanan jadi, sebagai selingan atau jika tidak ada waktu untuk memasak karena musim ujian misalnya. Yang sudah sangat terkenal tentunya Kebab. Makanan asli Turki ini, sangat memasyarakat di Jerman, karena banyaknya warga Jerman yang merupakan imigran dari Turki. Bahkan ada banyak yang mengatakan, kebab yang enak dan ada di Jerman justru tida ada di Turki. Namun sayangnya, banyak juga kedai kebab yang pemiliknya keturunan Turki ini, dan notabene muslim juga, yang malah menjual minuman keras beralkohol di tempatnya. Karena itu sangat perlu untuk mensortir atau memilih kedai mana yang kita tenang dan merasa aman untuk membeli di sana. Dan sekali lagi, info tentang warung atau kedai yang full halal ini, bisa kita dapatkan di masjid atau organisasi keIslaman tadi.

Yang terakhir adalah makanan kemasan. Selain bahan utama, tentu juga banyak bahan lain dalam makanan kemasan, seperti pengawet, perisa, emulgator dan lain-lain, dan ini juga harus dijaga agar tidak ada yang haram di dalamnya. Uniknya lagi, bahan-bahan tambahan tersebut, seringkali diulis dengan mengunakan kode-kode yang khusus, yang tidak bisa dimengerti semua orang. Pengalaman saya, masjid dan juga beberapa lembaga Islam, menyediakan semacam kartu kecil yang berisi kode-kode bahan tersebut, yang disarankan  untuk dihindari. Dihindari artinya memang belum tentu fix haram, tapi sebaiknya dihindari karena meragukan. Jadi saat kita belanja, kita tinggal melihat dan mencocokkan daftar di kartu tersebut dengan yang tertulis di Zutate (Ingredienst) di kemasan makanan. Di awal mungkin cukup perlu ketelitian dan kesabaran, namun seiring waktu kita akan mulai hafal, makanan mana yang sudah tidak perlu dicek lagi.

Dipl.-Ing. Syahril M Nurdin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *