Kota yang diperkirakan sudah ada sejak 3000 SM ini terletak di daerah selatan Turky, dekat dengan perbatasan Turky-Irak-Syria. Di tengah-tengah padang tandus Anatolia, Konya relatif subur berada di ketinggian 1200 mdpl.

Kota ini dulunya bernama Ikonium, Kota yang menjadi saksi perjalanan jatuh bangunnya kekaisaran besar Romawi dan Persia ini adalah kota paling bersejarah di Turky, ada titik penting dalam sejarah kekhalifahan yang jarang sekali diceritakan. Momentum penting yang menyambungkan imperium Seljuk ke kekhalifahan Utsmaniyah.

Jalaludin Karatay, seorang pangeran kerajaan Seljuk yang mendapat amanah itu. Di akhir hayatnya Sultan Alaeddin Key qubat, salah satu sultan Kerajaan Selcuk berpesan kepadanya, sebuah pesan tentang keberlanjutan perjuangan mempertahankan mata rantai kepemimpinan kekhalifahan.

Adalah suku Kayi, suku keturunan Öguz, pemimpin besar bangsa Turk. Mereka datang dari Asia Tengah. Suku nomaden yang kuat yang sangat mahir berperang. Suku inilah yang dipilih Sultan Alaeddin Key qubat untuk melanjutkan perjuangan kerajaan Seljuk. Amanah itu diemban oleh Ertugrul Ghazi (anak ketiga Sulayman shah) dialah pemberani yang membawa Suku Kayi ke front terdepan di perbatasan dengan Imperium Romawi Timur, Byzantium. Yang mendirikan front perjuangannya di Sögüt, didekat pantai laut Marmara.

Perjuangannya dilanjutkan oleh Usman, anak bungsunya. Yang dikemudian hari dikenal sebagai pendiri kekhalifahan Utsmaniyah. Kekhalifahan kuat yang bertahan Enam abad lebih.

Konya kota strategis di masa itu, sebagai ibukota kerajaan Seljuk, merupakan kota yang kuat. Rakyatnya mencintai ilmu. Madrasah ada di mana-mana. Perhatian Pangeran Jalaludin Karatay terhadap pendidikan sangat kuat. Beliau meyakini, manusia berpendidikan adalah benteng kerajaan terkuat. Keyakinan beliau tentang pentingnya pendidikan ini membuat rakyat Konya mencintainya.

Sangat kontras dengan kondisi di Eropa pada saat itu, mereka terbelakang karena mereka tidak menghargai ilmu, masa-masa kegelapan, para bangsawan di Eropa masa itu tidak pandai baca tulis, mereka merasakan jabatan diterima dari keturunan, jadi tidak perlu dipersiapkan, ataupun diperjuangkan agar dapat memenuhi amanahnya dengan baik.

Saat Noyan dan pasukan mongolnya menginvasi anatolya, dengan intriknya mereka berusaha lebih dahulu untuk menghancurkan madrasah-madrasah di Konya, mereka merusaknya, mereka tahu kekuatan kota Konya, ada pada para scholarnya, kaum cerdik pandainya.

Sampai suatu malam mereka tertahan di luar kota Konya. Di malam penyerbuan itu, rakyat Konya bersatu padu, mereka bersumpah untuk siap mati mempertahankan kota Konya, tanah tumpah darah mereka. Keberanian luar biasa, keyakinan kuat tiada tara, kesiapan syahid yang hanya dimiliki oleh sebuah kota yang terdidik. Sebuah kota yang berilmu.

Noyan berpikir ulang untuk menaklukan Konya malam itu, dia tertahan setelah dialog sederhananya dengan Jalaludin Karatay yang mendatanginya di luar kota Konya.
Noyan bertanya, dalam kondisi seperti sekarang, siapa orang yang paling engkau percayai.
Jalaludin Karatay menjawab mantab : Rakyatku.

Pendidikanlah yang memuliakan kehidupan. Pendidikanlah yang menjaga kehormatan.
Maka ketika sebuah peradaban mulai mengesampingkan pendidikannya, saat itu pula dimulailah kehidupan yang hina dan kehormatan yang tidak terjaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *