(team building series #1)

By: Dipl.-Ing. Syahril M Nurdin

Gaess…. Pasti sudah pada kenal dengan kalimat di atas. Kalimat yang mengandung kritik dan satire, namun sangat pas untuk mengevaluasi dan introspeksi diri kita sendiri. Dalam konteks meningkatkan produktifitas sebuah tim, maka prinsip untuk jadi person yang solutif ini pun sangat penting. Bahkan kalau diibaratkan sebuah pasukan maka jika seseorang tidak bisa berkontribusi dalam mengalahkan musuh, setidaknya jangan sampai dia menjadi penghalang pasukannya mencapai kemenangan.

Banyak sekali tips dan cara agar kita produktif dan jadi solutif dalam tim kita. Dalam tulisan ini setidaknya ada empat point yang bisa kita jadikan bahan diskusi dan perbaikan :

1. On the track

Sebuah tim terdiri dari beberapa orang dengan selera, pendapat dan motivasi yang bisa jadi berbeda-beda. Namun pada saat sudah dicapai kesepakatan target apa yang akan diraih, atau jalan mana yang akan ditempuh, maka itu menjadi tugas bersama. Sekalipun itu tidak sesuai atau bahkan berlawanan dengan pendapat dan target yang ingin kita capai sebagai person.

Maka pada saat itu, tidak boleh sedikitpun kesepakatan bersama tadi dicederai. Bahkan jika ternyata kemudian terbukti, bahwa pendapat kita lebih tepat, tetaplah konsisten pada hal yang disepakati bersama, atau jika ada perubahan, itupun harus disepakati bersama. Rembugan iku luwih becik tinimbang ijenan. Sejenius apapun kita, kita adalah bagian dari tim dan tidak boleh berjalan sendiri sesuai keinginan pribadi. Kalau dari sisi religius, sering disebutkan bahwa kesepakatan bersama yang kurang tepat, masih jauh lebih baik dan lebih berkah daripada pendapat pribadi yang tepat namun dipaksakan. Dan berdasar banyak pengalaman, apa yang dihasilkan dari banyak kepala, biasanya jauh lebih baik daripada apa yang dihasilkan satu kepala.

Also, berarti setiap person harus dapat meredam nafsu dan egonya dan semaksimal mungkin, ojo nggugu karepe dewe. Bersinergilah dengan yang lain untuk tetap di jalur yang diputuskan bersama menuju target. Jangan sotoy dan sok jago, ojo kemeruh, sehingga mengabaikan tim dan berjalan di jalur yang difikir terbaik sendirian, even kalau pun seseorang lebih kreatif, lebih cerdas dan lebih yang lain-lain dari anggota tim yang lain. Jika ternyata dia tidak bisa mematuhi hal tersebut dan berkeras bahwa dia lebih baik, maka keluar dari tim adalah alternatif terbaik daripada membuat tim tersebut rusak dan tidak produktif.

2. All out

Apa yang dimaksud all out di sini adalah bahwa tiap person dalam tim harus mencurahkan seluruh kemampuan yang dia miliki untuk interes tim atau target tim yang ada. Bahkan jika harus belajar sesuatu yang baru, maka itu dilakukan semata-mata karena ingin agar maksimal dalam berkontribusi dalam usaha mencapai target tim. Ojo mung saderno nglakoni, kudu biso mitayani. Jangan ada anggota tim yang hanya mencurahkan sebagian saja yang dia mampu, karena mungkin target tim tidak termasuk dalam selera dia atau bukan hal yang dia anggap penting dan benar.

Hal seperti itu juga seringkali terjadi. Saat pendapat kita tidak diambil sebagai keputusan tim, maka kita tidak mau semaksimal mungkin memaksimalkan kemampuan kita, apalagi sampai berkorban dalam kerja-kerja yang dilakukan. Dan itu dilakukan sambil menunggu saat utuk bisa mengatakan,”Kan gue udah bilang dari awal….” dan sejenisnya. Kalau kita tipe orang seperti ini dalam sebuah tim, maka segeralah bertobat. Karena dengan frame berfikir seperti itu, kita tidak berguna di tim kita dan hanya akan jadi beban tim. Biso opo ora disengkuyung bebarengan, ojo mung trimo dadi.

Sesungguhnya jika semua yang ada dalam tim benar-benar all out dalam kerja yang dilakukan, maka apapun yang dicapai di ujung akan menghasilkan kepuasan dan insya Allah juga keberkahan.

3. Team first

Jika kita sudah komitmen untuk memadukan potensi masing-masing dalam suatu kerja tim, maka sejak itu tidak ada lagi aku, saya, gue, ane dan sejenisnya. Yang ada hanya tim. Apapun yang dihasilkan oleh tim, maka itu bukan hasil pribadi namun hasil tim. Jika tim gagal, maka itu adalah kegagalan bersama, tidak boleh sedikitpun kita mencoba menjadikan anggota tim selain kita sebagai kambing hitam, dan begitu pula jika tim sukses, maka itu pun hasil atau kesuksesan tim, tidak boleh sedikit pun, kita merasa jadi pahlawan yang lebih penting dari anggota tim yang lain.

Seringkali juga person yang tidak bekerja dengan ikhlas, terus berusaha “mencuri” kesuksesan tim untuk mengklaim dirinya sebagai pahlawan yang paling berjasa atau untuk membranding dirinya pribadi dengan menumpang hasil kerja tim. Ini adalah penyakit yang harus segera dibinasakan, karena jika tidak, penyakit ini yang akan membinasakan tim.

Maka sekali lagi, tim adalah yang pertama, sementara nama-nama pribadi harus berada jauh di belakang. Kepentingan tim, nama tim, kesuksesan tim adalah identitas bersama. Sangat gak ada akhlak jika ada yang mengklaimnya sebagai hasil kerja pribadi atau dia berperan mayoritas dan lebih penting dari yang lain.

4. Resilient

Berikutnya, suatu tim akan menjadi sangat solid, terutama saat ada tantangan, jika semua anggota tim tersebut secara personal atau pun kolektif, punya sifat resilient. Kata ini bisa berarti ketahanan, ketangguhan atau dalam konteks kekinian lebih sering diartikan kelentingan.

Apa maksud dari kelentingan? Kalau ada yang pernah nonton film Tai Chi, mungkin seperti itulah kira-kira maksudnya. Seorang Tai Chi Master mampu menjadikan tenaga lawan yang besar justru menjadi senjata mematikan untuk mengalahkan lawan tersebut. Dia balikkan tenaga itu sehingga menghantam diri lawan sendiri.

Nah, seperti itulah tim yang mempunyai kemampuan ini. Tantangan, hantaman bahkan badai besar yang berada di depan tim, bukan menjadikan tim semakin lemah, namun justru menjadi semakin kuat. Tantangan yang ada membuat semua person dalam tim memaksimalkan semua ide, kreatifitas, terobosan baru dan juga potensi yang ada untuk menghadapinya. Alih-alih tantangan itu jadi penghalang, malah jadi energi dan semangat yang makin besar dan terus membesar. Also, it’s not about smart or intelligent, it’s about hard work and team work. Dan itu adalah kekuatan besar untuk tim, bukan hanya sekedar melewati tantangan yang ada, tapi jauh lebih dari itu, untuk menjadi pemenang secara terus menerus di masa depan. Cukat, trengginas, mitayani, suk bakale ngunduh wohing pakarti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *