Internet sering kali dipandang sebagai bentuk media demokratis yang tidak dibatasi oleh siapapun. Tidak pula dibatasi oleh aturan politik atau perusahaan tertentu. Terlebih lagi, internet memungkinkan transmisi informasi secara instan dengan cakupan dan potensi keterlibatan audiensnya sangat luas. Beberapa bulan terakhir tersebar sebuah video seorang perempuan Korea yang sedang dilecehkan di sebuah restoran di Jerman saat sedang live-streaming di Twitch. Pada bulan Maret 2021 sebuah webradio Jerman, Bayern3, juga mengejutkan dunia karena opini yang dilontarkannya dalam acara radio mengenai boyband asal Korea, BTS, “Some crappy virus that hopefully there will be a vaccine for soon as well” atau yang bisa kita terjemahkan sebagai, “Beberapa virus jelek yang mudah-mudahan akan segera ada vaksinnya juga”.

Dalam 12 bulan terakhir Google menyebutkan, bahwa pencarian dengan kata kunci “Asian Hate” atau “Anti-Asian Hate” naik hingga 5000 persen pada bulan Maret 2021. Di negara-negara di mana diaspora Asia mewaliki penduduk minoritas, terdapat laporan peningkatan angka diskriminasi, pelecehan, kekerasan verbal dan non-verbal, bahkan pembunuhan. Kejahatan rasial terhadap diaspora Asia dimulai sejak pandemi dan meningkat 149 persen antara 2019 hingga 2020 secara global. Di London tercatat terdapat 222 kejahatan rasial terhadap orang Asia Timur antara Juni hingga September 2020.

Peningkatan sentimen terhadap diaspora Asia di seluruh dunia menyadarkan, bahwa virus COVID-19 sama berbahayanya dengan virus kebencian yang merajalela. Kebencian, marginalisasi, dan stereotip terhadap diaspora Asia harus dihentikan, mengingat segmen populasi di seluruh negara Eropa sudah tercampur antara diaspora Asia, diaspora Afrika, dan kaum asli Aria. Keberagaman ini seharusnya menjadi peluang bagi seluruh makhluk hidup untuk hidup dan tumbuh bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *