“Perancis bukanlah negara dengan peringkat pendidikan terbaik pertama di dunia. Namun negeri yang memiliki pesona budaya dan keindahan alam yang dapat menarik jutaan wisatawan  ini memiliki kualitas pendidikan yang cukup mumpuni”. Nurchaili, S.Pd., M.Kom Guru MAN Darussalam, Aceh Besar/Peserta Kunjungan PTKBerprestasi ke Perancis Beberapa waktu lalu, tepatnya 24-30 Mei 2015, penulis berkesempatan mengunjungi beberapa negara di Eropa, salah satunya adalah Perancis. Kesempatan langka ini merupakan penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI kepada penulis sebagai Juara III Lomba Guru SMA/MA Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2014. Bersama sembilan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) lainnya yang terdiri dari Guru, Kepala sekolah, Tutor Paket C dan Guru PKn Berprestasi dari seluruh Indonesia, penulis mengunjungi tempat-tempat bersejarah, pusat kebudayaan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris, dan tentunya sekolah yang menjadi tujuan utama dari perjalanan ini. Keunggulan pendidikan Perancis telah mendapat pengakuan dunia. Menurut Financial Times atau European Report on Science & Technologies dari komisi Uni Eropa, institusi pendidikan Perancis selalu di posisi depan. Dimana Perancis menduduki peringkat keempat sebagai tujuan favorit pelajar internasional.Sistem pendidikan Perancis bersifat sentralistik, dimana pengelolaan pendidikan terpusat dan dikontrol oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, dan pendidikan menduduki urutan pertama dalam skala prioritas pembangunan nasional. Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Paris, Prof.Surya Rosa Putra., Ph.D.  mengungkapkan, pembelajaran di Perancis bersifat unik dan menarik dimana berbasis pada struktur keilmuan hakiki sehingga bangsa Perancis sangat gemar berpikir. “Pembelajaran dimulai dari penanaman logika seperti Matematika dan juga Bahasa setelah itu baru diberikan pemahaman terhadap aspek-aspek Fisika dan kemudian Kimia. Selanjutnya baru diberikan pemahaman terhadap ilmu-ilmu sosial,”  jelas Prof. Surya. Sekolah tidak mengajarkan banyak mata pelajaran tetapi mata pelajaran diajarkan secara mendalam dan menyeluruh. Sekolah Perancis Selama di Perancis, penulis dan rombongan mengunjungi dua sekolah di Kota Paris yaitu Saint Louis de Gonzague-Franklin (Franklin) dan Kingsworth International School (KIS). Franklin merupakan sekolah swasta terpadu dari jenjang SD hingga SMA yang memiliki 2.000 peserta didik dan 150 guru. Sekolah ini merupakan sekolah konvensional yang bersifat klasikal. Guru lebih banyak berbicara dan siswa lebih banyak menulis. Sumber belajar berasal dari buku teks dan internet. Proses pembelajaran di kelas dilaksanakan setiap hari yang berlangsung selama tujuh  jam pelajaran per hari. Setiap jam pelajaran terdiri dari 55 menit. Kurikulum yang diterapkan di Franklin adalah kurikulum nasional. Setiap semester peserta didik diwajibkan memelajari 11 mata pelajaran yaitu Teknologi, Bahasa Inggris, Bahasa Spanyol/Jerman,  Bahasa Latin/Yunani, Bahasa Perancis, Matematika, Fisika, Kimia, Sejarah, Geografi, dan Ekonomi. Selain mata pelajaran wajib, peserta didik mendapatkan kegiatan ekstrakurikuler sesuai peminatan dan bakat. Oleh karenanya meskipun pembelajaran setiap harinya berakhir pukul 17.00, kecuali Sabtu pukul 12.00, sekolah tetap dibuka untuk peserta didik sampai pukul 22.00. Bahkan pada hari Minggu sekolah tetap aktif untuk peserta didik belajar mandiri atau mengikuti ektrakurikuler yang boleh dihadiri oleh orang tua. Franklin merupakan sekolah favorit, dimana 80 persen peserta didiknya mendapat nilai tertinggi dalam ujian nasional. Alumni sekolah ini 25 persennya melanjutkan pendidikan ke universitas-universitas ternama di Inggris dan Amerika. Franklin merekrut sendiri guru-guru terbaiknya, karena dalam sistem pendidikan Perancis, sekolah swasta dibolehkan untuk merekrut guru-guru yang telah menyelesaikan pendidikan keguruannya selama 5 tahun atau menerima guru pindahan dari sekolah lain. Hal ini tidak berlaku untuk sekolah-sekolah negeri, karena guru di sekolah negeri disediakan oleh pemerintah. Sementara KIS merupakan sekolah kecil yang tetap ingin kecil agar dapat saling mengenali dengan baik. Sekolah ini adalah sekolah inklusif yang di awal pendiriannya hanya memiliki 55 peserta didik yang berasal dari 35 negara. Di sekolah ini peserta didik berkebutuhan khusus belajar bersama tanpa mengalami diskriminasi dengan peserta didik normal.Menurut Kepala Sekolah KIS Stephen Jankowski, sekolah ini dirancang agar tetap kecil berdasarkan filosofi yang dianut yaitu Open Free School. Open Free School diterjemahkan kedalam sebuah kegiatan pembelajaran yang mendorong peserta didik agar bersemangat pergi ke sekolah karena situasi lingkungan dan pembelajaran sangat menyenangkan. Sekolah didesain agar setiap individu (guru, peserta didik, karyawan) yang berbeda kewarganegaraan saling mengenal, menghormati dan mendidik satu sama lain. Dalam penjelasannya, Mr. Jankowski mengatakan sekolah swasta internasional di Perancis diberi tiga pilihan dalam menerapkan sistem pendidikan yaitu: Pertama, menerapkan sistem pendidikan Perancis secara penuh, kedua, mengkombinasikan sistem pendidikan Perancis dan sistem pendidikan negara induk sekolah tersebut dan ketiga menerapkan sistem pendidikan negara induk sekolah tersebut secara penuh. KIS mengambil pilihan ketiga yaitu menerapkan sistem pendidikan negara Inggris (British Education System) sehingga kurikulum yang diterapkan adalah International General Certificate of Secondary Education (IGCSE) dan A Level. Hal menarik yang terlihat dalam proses pembelajaran di KIS adalah guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan kecakapan berpikir (critical faculties). Peserta didik dilibatkan dalam diskusi mengenai materi pembelajaran dan diberi kesempatan secara bebas untuk berpendapat dan memberi jawaban. Hal lain yang berbeda dengan sekolah di Indonesia adalah ketika ada peserta didik yang terlambat memasuki tahun pelajaran karena berbagai sebab, mereka akan diberi kesempatan untuk mengikuti pembelajaran dan bimbingan guru secara khusus sehingga ia dapat menuntaskan kurikulum dan siap menghadapi ujian. Pembinaan peserta didik ditekankan pada pendekatan pendidikan moral dengan melibatkan seluruh warga sekolah. Sebagai contoh, jika ada peserta didik melanggar disiplin, maka sekolah tidak langsung melakukan tindakan namun meminta peserta didik yang lebih senior untuk melakukan pendekatan dan pendisplinan secara personal dengan peserta didik pelanggar tersebut. Demikian pula jika hal tersebut terjadi pada guru atau karyawan. Pendidikan moral juga diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran. KIS memiliki sarana dan prasarana yang cukup lengkap dan moderen. Pembelajaran interaktif dilakukan dengan media komputer, infokus dan smart board yang dilengkapi menu-menu pembelajaran. Rekrutmen guru di KIS dilakukan secara mandiri. Nilai tertinggi tidak selalu menjadi pertimbangan dalam rekrutmen guru, tapi lebih mengedepankan keinginan, motivasi dan kecintaan mereka terhadap pengajaran. Guru Perancis Di Perancis untuk menjadi seorang guru tidaklah mudah. Sebagai penjamin kualitas pendidikan, pemerintah Perancis tidak main-main dalam memilih guru. Guru terpilih adalah guru yang benar-benar mampu menjalankan profesi dengan baik, yang telah mengikuti seleksi secara ketat dan memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan. Jenjang karir guru dimulai dari guru junior, guru senior, dan kepala sekolah. Di sekolah negeri untuk menjadi kepala sekolah harus mengikuti seleksi nasional sementara di sekolah swasta bisa ditunjuk langsung oleh sekolah bersangkutan. Kepala Sekolah Franklin  Mr. Laurent Poupart mengungkapkan, tidak banyak guru yang berminat menjadi kepala sekolah karena tugasnya sangat berat. Penghasilan guru di Perancis sangat menjanjikan, selain gaji bulanan yang tinggi juga diberikan fasilitas penunjang. Gaji guru baik negeri maupun swasta seluruhnya  ditanggung oleh pemerintah. Bila dibandingkan dengan Indonesia, gaji guru di Perancis tergolong fantastis, untuk guru senior dan terbaik  berkisar 3.000–4.000 € (euro) atau sekitar 45-60 juta rupiah, sementara untuk guru junior sekitar 1.500 €. Di sekolah swasta selain gaji tetap, guru mendapat gaji tambahan dari sekolah jika mengajar dalam kegiatan ekstrakurikuler. Pembelajaran dimasing-masing sekolah di Perancis, terutama sekolah internasional tidaklah sama. Ada yang berpusat pada siswa dan masih ada juga yang berpusat pada guru. Namun kesamaannya, hampir tiap sekolah menggunakan sumber belajar berbasis IT dan memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk mengembangkan bakat dan minat melalui kegiatan ekstrakurikuler. Nah, bagaimanakah dengan kita? Semoga tulisan sederhana ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita dalam membangun pendidikan, khususnya di Aceh dan Indonesia umumnya. Dengan harapan peringkat pendidikan Indonesia semakin baik di dunia tidak lagi bercokol di urutan bawah. Sebagaimana laporan Organisasi Kerja Sama Ekonomi Pembangunan (OECD) yang dirilis Mei 2015, peringkat pendidikan Indonesia berada di urutan 69 dari 76 negara anggota OECD. Lima posisi teratas diduduki oleh Singapura, Hong Kong, Korea Selatan, Taiwan dan Jepang, sedangkan lima peringkat terendah adalah Oman di posisi 72, Maroko, Honduras, Afrika Selatan dan Ghana di tempat terakhir.(*)
Afrizal Wela

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *